Awas, Antibiotik Bukan Obat Biasa

antibiotik bukan obat biasa

Tidak semua orang tahu bahwa antibiotik tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Tak semua orang tahu bahwa bila hal itu dilakukan, akibatnya justru fatal, apalagi hanya untuk penyakit-penyakit ringan. Selain tidak tepat penggunaan, dampak yang lebih jauh adalah bakteri dalam tubuh justru menjadi kebal.

Penggunaan antibiotik khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotik bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri.

Dosis minum antibiotik

Saat memberi resep antibiotik, biasanya dokter akan menuliskan berapa kali seorang pasien harus mengonsumsinya dalam waktu sehari. Ada yang cukup sekali saja, ada pula yang harus 3-4 kali sehari. Idealnya, waktu untuk untuk meminum antibiotik adalah sama. Frekuensi tiga kali sehari berarti antibiotika diminum setiap 8 jam sekali. Tengah malam pun kalau memang jadwalnya untuk minum antibiotik, ya harus bangun. Itu yang ideal.

 Kebanyakan antibiotik disarankan dikonsumsi sebelum makan agar penyerapan lebih baik, namun ada pula beberapa jenis antibiotik yang bisa menimbulkan iritasi, seperti golongan kuinolon untuk infeksi saluran pernapasan atas atau infeksi saluran kemih. Antibiotik golongan tersebut menimbulkan mual, sehingga biasanya disertai dengan obat omephazole.

Bagaimana kalau pasien lupa mengonsumsi obat antibiotika? Obat yang mestinya diminum tiga kali sehari, hanya diminum dua kali saja? Menyikapi hal ini, dr. Hudyono, MS, Sp.OK, membolehkan antibotika diminum dua tablet pada waktu berikutnya.

“Boleh dosisnya dobel selama efek samping obat tersebut ringan dan lupanya tidak terus-terusan.¬† Dan yang pasti, antibiotika diminum pada hari yang sama atau tidak lebih dari 24 jam,” kata staf pengajar dari FK Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta ini.

Penggunaan dosis ganda ini harus hati-hati, sebaiknya atas saran dokter. Yang jelas, sangat tidak dianjurkan untuk terus-terusan menggandakan dosis obat. Sebab, semakin sering lupa, efektivitas obat akan menurun. Belum lagi kemungkinan efek samping yang mungkin muncul, seperti lambung terasa perih bahkan timbul diare. Diare merupakan salah satu efek samping bila mengonsumsi antibiotik berlebihan.

Kalau enggan menggandakan dosis, lupakan saja satu antibiotik yang tidak dikonsumsi itu. Hanya saja, perlu diingat bahwa efikasinya juga bakal menurun meski tak terlalu banyak karena batasannya masih dalam rentang toleransi. Namun, bila dibandingkan dengan pasien yang teratur minum antibiotik, hasilnya jauh lebih baik pasien yang teratur minum obat.

Comments

  1. Dee says:

    Postnya bagus-bagus dan penting bgt… sangat bermanfaat :)
    Visit back yaa :))

Speak Your Mind

*